aku

aku
Tampilkan postingan dengan label psikologi kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi kepribadian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2009

narsis

Kata narsis mungkin seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari buat orang-orang yang suka banget di foto atau orang yang sering bilang “Aku cantik ya”. Mungkin bisa dibilang narsi itu mencintai diri sendiri. Secara ilmiah narsis disebut sebgai narsistik. Lalu, apakah narsis itu normal?. Bagaimanakah sejarah narsih itu?. Bagaimana tinjauan psikologi tentang narsis?

Sekarang kita mulai dari sejarah tentang adanya kata narsis. Alkisah (cie…), menurut salah satu mitologi Yunani, ada seorang pria bernama Narkissos. Narkissos merupakan pria tampan yang jatuh cinta pada banyangannya sendiri saat dia bercermin di danau. Karena self-love yang berlebihan, dewa mengubag narkissos menjadi bunga. Bunga tersebut saat ini dikenal dengan nama narcissus. Sehingga narsis dari kata narcissus tersebut digunakan untuk memberi label pada orang yang mencintai diri sendiri.

Truz apakah narsistik itu normal?. Bagaimana. Menurut saya narsis itu normal sejauh tidak berlebihan. Setiap orang pasti narsis karena mencintai diri sendiri itu perlu karena dengan kita mencintai diri sendiri (tentunya dalam taraf normal) kita akan bisa mencintai orang lain. Contoh semua orang itu narsis adalah saat kita mendapat foto-foto hasil suatu acara camping misalnya. Foto-foto tersebut biasanya banyak yang foto berkelompok, saya pikir, setiaporang awalnya pasti mencari foto yang ada dirinya. Bener gak?.

Lalu narsistik seperti apa yang abnormal?. Bagaimana tinjauan psikologi tentang narsisistik?. Gangguan narsistik dikatakan abnormal apabila perilakunya sudah maladpatif. Dalam psikologi, narsistik termasuk dalam ganngauan kepribadian (personality disorder) yang biasa disebut dengan gangguan kepribadian narsistik (narcissistic personality disorder). Narsistik berlebihan dikatakan abnormal karena kualitas narsistik berlebihan akan menjadi tidak sehat terutama bila individu tersebut lapar dan serakah atas pemujaan. Keserakahan akan pemujaan tersebut merupakan perilaku maladptif yang akan menggangu hub interpersonal bahkan kariernya karena individu tersebut tidak akan mau menerima penadapat orang lain karena menganggap pendapatnya adalah yang paling benar. Gangguan kepribadian narsisitik ditemukan kurang dari 1 % dalam populasi umum (APA,2000).

Ciri-ciri narsistik dikutip dari buku psikologi abnormal (Rhatus, dkk, 2005) adalah:

  • Memiliki rasa bangga berlebihan terhadap diri sendiri

  • Kebutuhan ekstrem akan pemujaan

  • Bersifat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang lain

  • Bersifat self-defeating

  • Cenderung terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta yang ideal atau pengakuan atas kecerdasan dan kecantikan

  • Mengjar karier dibidang-bidang yang mana individu mendapat pemujaan misalnya, modeling, acting atau politik

  • Cenderung membesar-besarkan prestasi dan iri pada orang yang lebih berhasil

  • Keinginan untuk berhasil adalah bukan untuk mendapotkan uang tapi untuk mendapatlkan pemujaan

  • Hubungan interpersolnal berantakan karena adanya tuntutan untuk orang lain untuk memuja mereka

  • Minat individu pada orang lain hanya bersifat sati sisi saja: individu mencari orang yang mau melayani minatnya dan memelihara self-importance-nya

  • Memperlakukan pasangan seks sebagai alat untuk kenikmatan individu sendiri dan mendukung self esteem-nya

Berikut ini adalah perbedaan antara self interest yang normal dengan narsistik yang sifatnya self defeating (Rathus, dkk, 2005):

Self interest normal

Narsisme yang self defeating

Menghargai pujian, namun tidak membutuhkannya untuk menjaga self-esteem

Lapar akan pemujaan, memerlukan pujian agar dapat merasa baik akan diri sendiri untuk sementara

Kadang-kadang terluka oleh kritik

Merasa marah atau hancur oleh kritik dan merasakan kesedihan yang mendalam

Merasa tidak bahagia dalam menghadapi kegagalan, namun tidak merasa tidak berharga

Memikul perasaan malu dan tidak berharga setelah mengalami kegagalan

Merasa special atau memiliki bakat unik

Merasa lebih baik dari orang lain dan meminta penghargaan akan kemampuannya yang tidak dapat dibandingkan

Merasa nyaman dengan diri sendiri bahkan saat orang lain mengkritik

Perlu dukunga terus menerus dari orang lain untuk menjaga perasaan nyaman dan bahagia

Menerima masa lalu secara logis, meski hal tersebut diras menyakitkan dan dirasa tidak stabil untuk sementara

Berespon terhadap luka kehidupan dengan depresi dan kemarahan

Mempertahankan self-esteem dalam menghadapi ketidaksetujuan atau kritik

Berespons terhadap ketidaksetujuan dan kritik dengan hilangnya self esteem

Mempertahankan keseimbangan emosional meski kurangnya perlakuan khusus

Merasa pantas mendapat perlakuan khhusus dan menjadi sangat marah saat diperlakukan dengan cara yang biasa

Empati dan peduli terhadap orang lain

Tidak sensitive terhadap kebutuhan dan peraan orang lain, mengeksploitasi orang lain sampai mereka puas


Dari wacana ditas, kita dapat merefleksikan diri bagaimana sebenarnya kita. Apakah narsistik dalam diri kita masih dikatakan normal atau berada masih dalam taraf normal ataukah masuk dalam kategori narcissistic personaliyi disorder?

perilaku merokok ditinjau dari tipe kepribadian introvert dan ekstrovert

Perilaku merokok merupakan fenomena sosial yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dilakukan oleh orang tua, perilaku merokok juga dilakukan oleh remaja bahkan anak kecil, baik itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Perilaku merokok merupakan aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya yang diukur melalui intensitas merokok, tempat merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari (Komasari dan Helmi, 2000). Pada suatu penelitian, adanya kecenderungan individu mengatasi stress dengan merokok. Hal ini dikarenakan efek dari rokok tersebut adalah menenangkan. Rokok merupakan stimulant yang meningkatkan aktivitas sistem saraf. Efeknya adalah menyebabkan euphoria dan peningkatan self confident pemakainya (Rathus dkk, 2003)

Fenomena perilaku merokok mahasiswa juga merupakan fenomena sosial yang sering kita jumpai. Lingkungan universitas merupakan tempat berkumpulnya individu dari berbagai daerah dengan keunikan sendiri dan tipe kepribadian yang berbeda pula. Cara individu dalam lingkungan sosialisasi, penyesuaian baru serta stress yang dialaminya berbeda satu sama lain. Cara individu berperilaku tersebut perbedaannya dilihat dari sudut pandang tipe kepribadiannya dalam perilaku merokoknya.

Menurut Tomkins (dalam Mu’tadin, 2002) perilaku merokok dibagi dalam beberapa tipe berdasarkan tempat merokok dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari subjek perokok. Tempat merokok dan fungsi merokok pada diri subjek tentu saja berbeda pada setiap individu. Tipe kepribadian setiap individu baik itu introvert maupun ekstrovert akan mempengaruhi perilaku merokok subjek dan menentukan pula tipe bagaimanakah perilaku subjek jika dihubungkan dengan tipe kepribadiaan introvert dan ekstrovertnya.

Tipe kepribadian ekstrovert dan introvert dijelaskan oleh Jung, bahwa tipe kepribadian introvert cenderung menyendiri, pendiam, senang introspektif dan sibuk dengan kehidupan internalnya sendiri, sedangkan tipe kepribadian ektrovert cenderung aktif, berinteraksi dengan orang lain dan dunia sekitarnya (Alwisol, 2004). Perbedaan trait-trait dari tipe kepribadian introvert dan ekstrovert tersebut akan mempengaruhi perilaku merokoknya. Dalam fenomena sosial dapat kita lihat bahwa orang yang ekstrovert, perilaku merokoknya sering kali diawali sebagai aktivitas sosialisasinya. Orang yang ekstrovert memulai perilaku merokok karena konformitas teman sebaya dan melakukannya ditempat-tempat umum yang memungkinkan mereka berada di area pergaulan dengan banyak orang. Akan tetapi orang yang bertipe kepribadian introvert memulai perilaku merokok cenderung disebabkan karena keadaan distress pribadinya atau karena faktor internal dalam dirinya. Tempat yang digunakan untuk merokok pun cenderung bersifat pribadi, misalnya di ruang pribadi dalam kantornya ataupun di kamar.

Dalam lingkungan universitas, fenomena yang tampak dari mahasiswa bertipe introvert adalah kecendrungan untuk berperilaku merokok diadaerah umum di area kampus. Mahasiswa tersebut cenderung berkumpul dengan teman-temanya saat merokok pada saat jam kosong kuliah dan setelah makan. Adanya fenomena perilaku kolektif dari perilaku merokoknya. Apabila dalam kelompok tersebut satu mahasiswa merokok maka mahasiswa yang lain akan merokok pula. Hal ini disebabkan adanya hukum anonimitas.

Mahasiswa bertipe introvert, fenomena yang tampak adalah mereka cenderung untuk merokok sendirian ditempat-tempat tersembunyi. Mereka merokok hanya pada saat mereka stress saja. Mereka merokok pada tempat-tempat khusus yang bersifat pribadi misanya dalam kamar kos. Mahasiswa tersebut cenderung mengkonsumsi rokok tidak terlalu berlebihan tergantung kondisi psikisnya saat itu. Kondisi stress yang parah dapat pula menyebabkan individu tersebut mengkonsumsi rokok dengan sangat berlebihan sampai memperoleh kepuasan dan ketenangan dari rokoknya tersebut. Mahasiswa introvert cenderung memiliki self confident yang rendah, sehingga perilaku merokoknya sebagai cara untuk meningkatkan self confidentnya karena rokok merupakan stimulant yang dapat meningkatkan perasaan euphoria dan self confident penggunanya. (Mei -2008)