aku

aku

Rabu, 17 Desember 2008

WAWANCARA KONSELING

Wawanca konseling mungkin merupakan wawancara yang paling sensitif dari seluruh bentuk wawancara. Wawancara konseling tidak akan terjadi kecuali bila ada seseorang yang merasa tidak mampu menangani sendiri problemnya dan memerlukan bantuan orang lain atau konselor yang menentukan sesi-sesi konseling yang dibutuhkan. Masalah yang dihadapi mungkin saja bersifat sangat pribadi misalnya persoalan-persoalan keuangan, seks, stabilitas emosional, kesehatan fisik, pernikahan, moral, gaya kerja atau duka cita atas kematian teman dan anggota keluarga. Konseling merupakan proses membantu seseorang untuk memperoleh pemahaman tentang masalahnya serta menemukan jalan untuk menanggulanginya.

Wawancara konseling merupakan wawancara yang sangat sensitive dan kritis, dipimpin oleh seorang professional ( dokter, pendeta, pengacara, guru, dan manajer), asosiasi-asosiasi (asosiasi dalam rekan kerja, para siswa, anggota club), teman-teman dan anggota keluarga yang dulunya telah memiliki pengalaman konseling. Tujuan utama konseling adalah menolong individu untuk mengerti, menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan sikap dan hubungan dengan orang lain.


Orientasi Dasar Konseling

  1. Manusia dapat tumbuh dan mereka dapat memperbaiki diri

Prinsip pokok dari konseling adalah konselor harus optimis bahwa manusia (klien/itee) mampu untuk tumbuh dan memperbaiki diri sehingga konselor tidak perlu terlalu keras membantu karena klien/itee memiliki potensi untuk berubah secara mandiri.

  1. Konseling adalah suatu investasi dalam individu

Konseling berarti memutuskan untuk menginvestasi waktu dan energi untuk orang lain karena didasari keyakinan bahwa klien mampu untuk berkembang.

  1. Konseling adalah proses belajar

Konseling berbeda dengan persuasi, seseorang dapat merubah perilaku karena dibujuk/diperintah namun hasilnya tdk menetap sebagai bagian dari kepribadian. Namun konseling lebih pada memberi nasehat, ada percakapan dari hati ke hati. Konseling lebih menekankan pada merubah sikap dan perilaku orang yang dibimbing dengan merubah pikiran yang menuju pada sikap dan perilaku itu. Disinilah proses belajar tersebut terjadi. Jadi bukan hanya memecahkan masalah saja namun mencari suatu perubahan dalam individu tersebut.

  1. Penerimaan dari seorang individu adalah awal konseling yang baik.

  2. Konseling adalah suatu proses berlanjut.


Dua Pendekatan Dasar untuk Wawancara Konseling

  1. Konseling Directive (penyuluhan terarah)

Karakteristiknya adalah iter menyerang langsung ke masalah, mengontrol struktur wawancara, memutuskan untuk menyelesaikan atau menghindari masalah subjek, menyusun langkah-langkah dalam wawancara dan menentukan lamanya wawancara. Iter mengumpulkan informasi, menganalisis masalahnya, memberikan pendapat, memberi solusi-solusi, memberi arahan yang spesifik kepeda itee. Iter mengatur bagaimana klien bertindak dengan tujuan untuk mengubah perilaku itee agar sesuai. Diasumsikan bahwa iter lebih mampu disbanding itee dalam memecahkan masalah.

Keuntungan konseling directive adalah:

          1. Cukup mudah untuk memimpin dan mempelajarinya

          2. Tidak memerlukan waktu yang banyak

          3. Konselor fokus pada kepentingan masalah yang spesifik

          4. Membolehkan konselor untuk memberikan informasi dan pedoman penting

          5. Memperbolehkan konselor untuk melayani seperti penasehat ketika klien merasa segan dan tidak sanggup untuk menanalisis masalahnya atau untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan solusinya.

  1. Konseling Non-directive

Karakteristiknya adalah iter dipandang sebagai fasilitator/penolong pasif bukan sebagai ahli, iter membantu klien memperoleh informasi, mendapat insight, menyelidiki masalah serta menganalisisnya, dan menemukan dan mengevaluasi solosinya. Konselor mendengarkan, mengobservasi, dan memberi harapan (mendorong) bukannya memaksakan ide dan solusi. Konseling berpusat pada klien, klien yang mengontrol struktur wawancara, menentukan topik apa yang akan didiskusikan, kapan mereka akan berdiskusi dan bagaimana mereka akan berdiskusi, menentukan langkah-langkah dalam diskusi serta lamanya waktu diskusi.

Diasumsikan bahwa (1) Setiap orang punya kemampuan untuk mencapai pemecahan terbaik yang ia miliki, (2) Hanya klien yang dapat memutuskan apa yang terbaik untuknya, (3) Hal terpenting dalam konseling adalah mendengar.

Keuntungan konseling non-directive:

  1. Membolehkan klien untuk mengungkapkan apa yang lebih penting untuk dirinya pada waktu yang diperlukan

  2. Membolehkan klien menyampaikan informasi dengan sukarela yang mungkin saja konselor tidak memikirkan hal itu

  3. Menyerahkan kepada klien untuk lebih mengontrol keputusan serta tindakannya

  4. Non-directive mungkin dapat mendorong klien untuk memberikan jawaban dan komentar secara mendalam

  5. Memeberikan konselor kesempatan untuk mendengarkan dan mendorong klien

  6. Non-directive memungkinkan adanya komunikasi pada klien bahwa konselor sungguh tertarik padanya dan tidak terburu-buru untuk menerima klien lain ataupun mengerjakan tugas lainnya.

Konselor yang terdiri dari konselor akademik, konselor pada perlindungan sosial (Social Security), konselor pernikahan dan konselor kesehatan selalu menggunakan kombinasi yang tepat antara pendekatan directive dan non-directive. Contohnya, selama bagian pertama dari wawancara dengan keluarga, konselor pelayanan sosial mungkin menggunakan pendekatan directive untuk mendapatkan informasi tentang keluarga tersebut seperti usia, jenis kelamin, pendapatan, alamat, pekerjaan, masalah-malah kesehatan, dan lain-lain. Konselor mungkin pindah ke pendekatan non-directive ketika mencoba untuk menemukan masalah keluarga lalu menghadapi masalah tersebut, bagaimana anggota keluarga tersebut merasakan masalahnya, dan apakah mereka mengharapkan pelayanan sosial. Tugas yang sulit dari konselor adalah menentukan pendekatan khusus yang tepat dan merubah dari pendekatan satu ke pendekatan yang lain selama wawancara konseling.


Merencanakan Wawancara

  1. Membuat keputusan untuk melakukan konseling

Konseling berarti menginvestasi waktu, energi dan uang untuk kedua individu (iter dan itee).

  1. Mengumpulkan fakta, kerjakan tugasmu

Konselor harus spesifik tidak ambigu. Konselor yang baik memulai dengan fakta-fakta. Dalm mengumpulkan fakta, digunakn paradigma yang paling relevan denga situasi tertentu. Paradigma pertama menyatakan bahwa seseorang bertanggung jawab atas masalahnya oleh karena itu solusinya yaitu merubah orang itu. Paradigma kedua menyatakan bahwa masalah disebabkan oleh lingkungan/situasi kerja bukan karena individunya/tingkah lakunya.

  1. Meninjau kembali tujuanmu

Konseling adalah aktivitas membantu, membantu maksudnya membuat perubahan-perubahan yang harusnya terjadi pada klien. Kamu harus menginvestigasi apakah tujuanmu sama/tidak dengan klien.

  1. Batasi sasaranmu pada tiap wawancara

Batasan itu dapat dibagi menjadi (1) wilayah masalah, (2) alasan untuk berubah, (3) alternatif perubahan, (4) manfaat perubahan.

  1. Pilih struktur untuk konseling

Konselor dapat memakai konseling directive/non-directive.

  1. Rencanakan suasana yang akan kamu kembangkan

Suasana yang paling bermanfaat untuk konseling seperti “terbuka”, “interaktif”, dan “objektif”. Keterbukaan dikrakteristikkan dengan pengungkapan diri. Dibutuhkan saling percaya satu sama lain dan harus menjaga kerahasiaan karena orang sulit untuk terbuka. Konselor lebih baik menekankan pada fakta daripada penilaian sendiri saat mengambil kesimpulan. Hal yang juga penting yaitu menggunakan sapaan formal seperti Tuan, Nyonya, Nona, selain itu mengatur tempat duduk dan memperhatikan penampilan juga penting.

  1. Menyusun setting sehingga interaksi dapat maksimal

Settting juga merupakan penentu terjadinya interaksi. Beberapa pertimbangan utama :

  • Buat janji dengan klien dan tentukan berapa lama pertemuan akan berlangsung.

  • Pilih ruangan tersendiri, area yang nyaman dan bebas gangguan.

  • Atur perabotan yang akan membantumu apakah ingin formal/informal.

  • Perhatikan pencahayaan, cahaya yang lemah cenderung membuat orang lebih terbuka.


Melakukan Wawancara

Pendahuluan wawancara konseling sebaiknya memenuhi 4 hal yaitu membangun raport, membuat kesepakatan kerja, melakukan diskusi area masalah, menjamin kerahasiaan.

  1. Membangun raport

Raport diperlukan untuk membuat klien nyaman dan menumbuhkan kepercayaan diri klien. Dapat dilakukan dengan memulai pembicaran singkat, orientasi yang bagus, hangat dan ramah. Setelah membangun raport, konselor membuat kesepakatan kerja mengenai bayaran, frekuensi sesi konseling dan tujuan klien. Beberap hal yang dapat dilakukan agar klien mau bicara adalah :

    • Meyakinkan padanya akan kerahasiaan

    • Menunjukkan komitmen untuk membantu

    • Jujur

    • Mendengarkan dari awal

    • Tunjukkan penerimaanmu

  1. Spesifik dalam mengidentifikasi dan mengartikan masalah, tingkah laku, sikap/hubungan

Menggali lebih dalam masalah klien dengan menyelidiki dan menanyakan hal-hal yang spesifik. Itu dilakukan agar klien mau membuka diri dan mengakui masalahnya. Setelah masslah diakui biasanya kemajuan dapat dibuat.

  1. Menyelidiki/mengeksplorasi persepsi klien

Menyelidiki dengan menanyakan pertanyaan yang membangkitkan kenangan dn tidak membiarkan klien menghindari topik. Jika klien meyakini suatu persepsi tanyakan apakah dia mendukung/menolaknya. Eksplorasi yang efektif dilakukan dengan terus terang, tidak menuduh dan dengan cara yang tidak berperasaan.

  1. Mendengar dan menyerap

Kamu tidak hanya mendengar tapi juga menyimak baik apa yang dikatakan klien untuk medeteksi perubahan-perubahan dalam percakapan dan ketidakkonsistenan. Setelah itu diberi pertanyaan tambahan untuk mengklarifikasi perasaan dan kesan klien. Perhatikan juga tingkah laku nonverbal karena dapat mengungkapkan hal yang disembunyikan dalam kata-kata.

  1. Menyelidiki reaksi secara penuh

Konfrontasi diperlukan dalam menyelidiki reaksi klien karena sebagian besar orang selalu ingin menutupi kesalahan yang membuat mereka tak nyaman. Wawancara non-directive akan lebih banyak mendapat feedback reaksi klien.

  1. Berorientasi pada masalah

Konseling memiliki konotasi dimana keputusan-keputusan dapat diambil. Lebih baik kamu berorientasi pada masalah daripada berorientasi pada solusi. Waktu digunakan untuk menyelidiki akar masalahnya.

  1. Menjelaskan percabangan dari masalah dan menyelidiki alasan-alasan mengapa perubahan diperlukan

Dalam situasi kerja tidak boleh terlalu cepat mengambil intinya. Misalnya manajer memotivasi karyawannya yang kehilangan pekerjaannya dengan menunjukkan bahwa peningkatan kualitas diri, kebanggaan, hubungan yang lebih baik dan reward positif lainnya akan menjadi hasil dari perubahan sebelum memutuskan pindah kerja.

  1. Bereaksi pada klien

Biasanya klien bertanya tentang hal-hal pribadi konselor/perbandingan dengan orang lain. Agar fokusnya tidak berubah sebaiknya dialihkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

  1. Mengembangkan rencana tindakan

Bila menggunakan pendekatan non-directive kamu meminta klien mengidentifikasi rencana tindakan. Hal ini tidak hanya membuat klien bertanggung jawab terhadap solusinya tapi juga mengecek apakah klien menerima konselingmu. Bila menggunakan pendekatan directive, konselor yang mengajukan rencana tindakannya. Perlu juga diukur reaksi klien terhadap solusi yang diberikan konselor.

  1. Menutup wawancara dengan ketentuan-ketentuan untuk diikuti

  2. Menjaga suaramu dan tubuhmu tetap dibawah kendali

Pertanyaan harus ditanyakan dan dikomentari dengan cekatan. Empati dan penerimaan ditunjukkan secara wajar tidak perlu berlebihan/malah kekurangan karena akan mempengaruhi keterbukaan selama konseling.

  1. Membuat catatan menyeluruh

Tidak satupun orang dapat menghafal semua rincian dalam sesi konseling oleh karena itu disarankan untuk mencatatnya. Catatan itu dapat digunakan konselor untuk mendalami masalah klien.

Menghadapi Kesulitan Tertentu

Makna yang tersembunyi

Menjadi sensitive/peka terhadapa makna yang tersembunyi karena orang lebih suka menyatakan perasaan dan ide-idenya secara tak langsung.

Klien yang susah berbicara

Membantu klien menyaring ide dan ekspresi mereka karena sebagian besar orang kesulitan menganalisis masalah mereka sendiri. Oleh karena itu membutuhkan waktu dan banyak probing untuk mengetahui maksud dan reaksi mereka. Untuk memudahkan klien mengungkapkan masalahnya biasanya beberapa konselor membicarakan hal lain dulu sebelum masalahnya.

Keinginan untuk pergi (wanting to leave)

Sebagian besar itee ingin meninggalkan situasi konseling yang menekan mereka. Untukmencegah kepergian mereka konselor sebaiknya menunjukkan manfaat melanjutkan hubungan/konseling.

Ketergantungan

Ketergantungan terjadi ketika klien berharap konselor mampu menyelesaikan masalahnya. Konselor yang menggunakan pendekatan directive tidak akan kesulitan mengahdapi keinginan klien tapi akan bermasalah bila menggunakan pendekatan non-directive karena klien dipaksa untuk memberi solusi mesalahnya sendiri.

Penyangkalan

Penyangkalan harus dihadapi untuk membuat kemajuan. Penyangkalan ini dapat diatasi dengan membuktiknnya dengan tegas, menghadapinya dengan fakta-fakta dan mendorong klien pada suatu pengakuan.


Kesimpulan Bab

Dua pemikiran yang ditekankan pada bab ini adalah :

  1. Sebagai konselor, kamu bertabggung jawab secara etis dan tidk menipultif dalam interaksimu dengan klien. Gunakan kekuasaan peranmu dengan bijaksana.

  2. Konseling melibatkan koreksi atas perilaku, dan begitu juga pendisiplinan. Menjadi sensitif tehadap perbedaan antara keduanya, oba untuk konseling lebih dulu baru pendisiplinan.


Langkah-langkah Wawancara Konseling (sumber lain)

Persiapan Pra-interview (Preinterview Preparation)

Persiapan pra-interview mungkin dapat dimulai dengan perincian dan pengetahuan tentang analisis diri. Walaupun analisis diri tidaklah mudah, kita akan kesulitan ketika berusaha untuk mengerti dan membantu orang lain jika tidak mengetahuai diri kita sendiri. Sebagai iter, kita harus menjadi “client centered” (berpusat pada klien) jika kita ingin menjadi sensitif terhadap kebutuhan itee dan komunikasi yang dapat dimengerti, kenyamanan, ketentraman hati serta kehangatan. Sebagai itee kita harus menjadi “people centered” (berpusat pada banyak orang) jika kita berharap mengerti masalah kita dan orang lain termasuk konselor. Secara singkat kita harus berusaha menjadi empatik dengan orang lain.

Bagian dari persiapan pra-interview sebagai konselor, kita seharusnya berpikir tentang bagaimana kita merespon berbagai macam pertanyaan dan komentar dari counselee, misalnya :

Saya tidak menginginkan bantuanmu atapun orang lain.

Mengapa saya harus mendiskusikan keuangan pribadi saya dengan anda?

Saya tidak ingin melibatkan keluarga saya disini.

Saya tidak butuh bantuan anda.

Kamu tidak pernah menikah: bagaimana kamu dapat membantu saya dengan masalah pernikahan saya?.

Kita dapat merespon pertanyaan tersebut dengan cara tetap diam, menggunakan probing, atau mengulangi pertanyaan ataupun komentarnya untuk mendorong itee melanjutkan dan mungkin menjelaskan perasaan, sikap dan pemikirannya ataupun memberikan kita informasi tentangnya. Kita sebaikny memberikan informasi bagaimana menenangkan rasa takut dan menghilangkan salah paham serta menyinggung pendidikan dan pengalaman kita, menyampaikan kemampuan kita untuk membantu dan mengerti perasaan itee.

Kita seharusnya melihat kembali apapun yang kita tahu tentang itee agar memperoleh pengetahuan tentang itee dan masalahnya saat ini: sejarah pendidikan dan pekerjaan, latar belakang keluarga, skor tes, sesi konseling sebelumnya, pernyataan dari guru, kenalan, manajer, dan konselor lainnya serta informasi tentang problem yang telah berlalu serta solusinya. Mendorong klien untuk membuat janji penting dilakukan. Pembuatan janji akan mencegah keinginan kita untuk mendesak klien untuk cepat-cepat atau menutup interview sebelum waktunya. Ketika klien datang dengan problemnya, temukan tempat yang tenang, pribadi dan nyaman. Banyak manajer dan guru membagi kantornya dengan yang lain atau mempunya kantor dengan sekat terbuka yang hal tersebut tidak memberikan kebebasan pribadi. Kita tidak dapat mengharapkan itee akan terbuka dan percaya sepenuhnya pada kita jika orang luar dapat mendengar interview kita.

Mengatur tempat duduk sehingga membuat iter dan klien tenang dan komunikasi menjadi bebas. Pengaturan furniture dan tempatnya dapat menampakkan situasi informal. Banyak konselor menemukan bahwa meja bundar mirip meja makan dipilih oleh klien. Klien menyukai susunan seperti ini karena mereka teringat menyelesaikan persoalan-persoalan keluarga mengelilingi meja makan dan mengelilingi meja makan tidak ada posisi yang berkuasa.

Jika persiapan pra-interview talah dilakukan dengan teliti, sekarang kita siap untuk memimpin wawancara konseling yang sensitif, terorganisasi, komunikatif dan cara yang professional.


PEMBUKAAN WAWANCARA KONSELING

Menyambut : dengan nama dan kehangatan

Cara bersahabat : Lakukan dengan alami dan tulus.

Menerima itee dengan apa adanya dia.

Jangan bersifat merendahkan diri atau perlakuan merendahkan. Jangan menerka itee dengan pertanyaan seperti : “ Saya berani bertaruh bahwa saya tahu mengapa Anda ke sini.”; “ Saya mengasumsikan Anda akan berkata tentang proyek atau “tidak diragukan Anda datang karena nilai tes yang rendah.”

Hindari reaksi : “ Anda terlihat kacau.”

“ Anda harus menurunkan berat badan, bukan?

“ Apa yang Anda pikirkan?

“ Apakah pakaian itu terlalu sempit?”

Pembuka ini tidak kondusif untuk bermacam-macam hubungan yang dibutuhkan untuk konseling yang sukses. Wawancara konseling tidak seperti wawancara lainnya, sedapat mungkin selalu ada waktu dalam membangun rapport, saling berkenalan. Kita telah menemukan waktu untuk itu sama dengan murid-murid yang telah belajar dalam kelas kecil selama seminggu.

Langkah membangun rapport adalah kesempatan kita untuk mulai membangun reputasi untuk tertarik, adil dan memelihara keyakinan. Kita dapat menemukan jika klien berharap banyak atau sedikit dari wawancara, dan jika klien mempunyai satu hal stereotype negatif mengenai konselor-konselor. Itee harus nyaman dengan situasi wawancara (misal : topik yang memalukan, itee menangis, klien berbicara tentang semua masalah yang sebenarnya).

Ketika rapport terpenuhi, biarkan klien memulai dengan topik yang sangat menarik padanya. Ini adalah langkah pertama ke arah menemukan sifat tepat masalah klien dan mengapa klien tidak dapat menyelesaikannya. Ingat, jangan mendesak klien. Klien biasanya bercerita ketika dia merasa siap. Yang terpenting, kita tidak boleh mendesak klien dengan solusi secepat kita telah menemukan masalah. Observasilah aksi non verbal klien sengan sangat hati-hati karena mungkin dapat mengungkapkan perasaan terdalam dan menunjukkan intensitas perasaannya.


INTI WAWANCARA KONSELING

Iter memainkan banyak peran dalam tipe wawancara konseling: pendengar, pengamat, pereaksi, penanya, penolong, simpatiser, dan informant. Dengarkan dan observasi peran tepenting kita. Jika kita tidak memberikan sepenuhnya perhatian pada apa yang dikatakan klien, implikasi dari apa yang dikatakan, dan apa yang mungkin dikatakan atau tidak, kita seperti tidak mendapat inti dari masalah. Jadilah tertarik dengan jujur pada itee dan apa yang dikatakannya. Jangan menyanggah atau mengambil alih percakapan. Hati-hati dalam menyisipkan opini, pengalaman-pengalaman, masalah-masalah pribadi; fokus dengan klien. Jika klien berhenti berbicara untuk sementara, jangan mengobrol untuk mengisi kesunyian. Kita mungkin menggunakan kesunyian untuk bermacam-macam tujuan, dorongan penting bagi itee untuk melanjutkan berbicara. Mendengarkan akan efektif jika :

  1. Melihat semua topik dan mengomentari yang kemungkinan besar penting untuk menyukseskan wawancara konseling.

  2. Hindari perhatian yang mengganggu, seperti tingkah klien.

  3. Jangan terlalu terstimulasi atau terbawa emosi.

  4. Bersikap mendengarkan, percaya pada filosofi/pandangan klien mengenai dirinya, dunianya, dan orang-orang yang di dalamnya dari pada melihat fakta-fakta.

  5. Jangan memotong pembicaraan dengan komentar sampai kita mengerti sepenuhnya apa yang klien katakan.

  6. Jangan gunakan bahasa dan komentar yang emosional dalam percakapan antara itee dan iter sebagai taktik pertahanan.

  7. Mencegah prasangka pribadi dari hal yang merusak pemahaman dan pengertian mendengarkan.

Amati bagaimana itee duduk, bahasa tubuh, kegelisahan, dan pertahankan kontak mata; dengarkan nyaringnya suara, sifat takut-takut dan bukti dari ketegangan. Pengamatan ini mungkin memberi petunjuk, seperti : seberapa besar masalah ini mengganggu klien, keseriusan masalah, seberapa rileks klien, dan seberapa kien nyaman dengan kita. Jika kita memutuskan meletakkan catatan atau rekaman wawancara, kita harus menjelaskan apa yang kita lakukan dan mengapa. Hentikan jika deteksi prosedur ini mempengaruhi wawancara.

Sekarang, mari kita fokus pada fase umum wawancara konseling, informasi yang secara potensial tersedia bagi konselor, dan dimana konselor mungkin merespon atau bereaksi.


Fase Interaksi

Contoh model fase Hartsuogh dan Echterling dari pemanggilan krisis untuk kampus atau komunitas pusat krisis ini dapat dipake pada semua situasi konseling. Figur 9.3 mengilustrasikan fase ini afektif atau emosional, fase-fase, kotak 1 dan 3 meliputi perasaan itee: kejujuran pada konselor dan perasaan tentang diri dan masalah. Kognitif atau berpikir, fase-fase kotak 2 dan 4 meliputi berpikir tentang masalah dan mengambil beberapa aksi.


Afektif

Kognitif

1. Membangun suasana membantu

a. Membuat kontak

b. Menegaskan aturan

c. Kembangkan hubungan

2. Pengukuran krisis

a. Menerima informasi

b. Mendorong informasi

c. Mengulang informasi

d. Pertanyaan untuk informasi

3. Mempengaruhi integrasi

a. Menerima perasaan

b. Mendorong perasaan

c. Merefleksikan perasaan

d. Pertanyaan untuk perasaan

e. Hubungan perasaan pada konsekuensi atau untuk contoh


4. Pemecahan Masalah

a. Pilihan informasi atau penjelasan

b. Alternatif yang membangkitkan

c. Membuat keputusan

d. Mengerahkan akal


Wawancara konseling yang khas mulai dengan mendirikan hubungan dan suatu kepercayaan. Fase 1: berproses untuk menemukan dasar alamiah dari masalah klien. Fase 2 : Mungkin lebih secara mendalam perasaan klien. Fase 3: dan akhirnya datang beberapa keputusan tentang suatu pengajaran tindakan, fase 4. Kecuali dalam kedaruratan medis atau ketika menunda tindakan yang sedang mengancam kehidupan, jangan berpindah dari fase 1 ke fase 4 karena mengabaikan fase 3 tanpa hati-hati. Jika kita tidak menemukan kedalaman perasaan klien maka kita tidak benar-benar memahami masalah atau tingkatan pemecahan yang mungkin. Jangan mengharapkan untuk pindah melalui semua fase dalam setiap wawancara atau proses tak terputuskan dalam urutan 1,2,3,4. Kita mungkin kembali pada keempat fase berikut yaitu antara fase 2 dan 3, atau 3 dan 4. Kecuali jika orang yang diwawancarai menginginkan informasi khusus (dimana untuk mendapat pertolongan medis, bagaiman untuk mendapatkan informasi pengendalian kelahiran, bagaiman untuk mendapatkan pinjaman monetori darurat) kita mungkin tidak mendapatkan fase 4 hingga wawancara kedua, ketiga, atau keempat. Bersabarlah!


Informasi dan Tanggapan-tanggapan

Turner dan Lombard dalam 9.4, informasi secara potensial yang tersedia bagi konselor dan cara-cara umum konselor menanggapi. Jenis dari informasi dan tanggapan bisa terjadi dalam 4 fase interaksi Hartsough dan Echterling. Turner dan Lombard mengatakan, klien mungkin mengatakan tentang: 1) objek, kejadian, gagasan, konsep, dan seterusnya, 2) orang lain, atau 3) diri sendiri. Dengan suatu pilihan dari jenis informasi itu, iter sebaiknya menanggapi apa yang dikatakan itee tentang dirinya. Iter boleh jadi menanggapi : 1) Memberikan tanggapan, nasehat, saran, 2) Mengintepretasikan apa yang dikatakan itee, 3) Menerima atau mengklarifikasikan apa yang klien katakan dari sudut pandang klien sendiri. Ini adalah suatu pendekatan yang berpusat pada klien.

1

Perasaan yang dinyatakan, khususnya apa adanya

Perasaan bertentangan





Negatif

. Objek kejadian 1. Iter memberikan pendapat,

dan sebagainya. nasehat, dan sebagainya


2. Orang lain 2. Iter memberikan interpretasi

terhadap perkataan itee

Dirinya

Mengkalarifikasikan dan menerima apa yang itee katakan pada tingkat dari





Gambar 9.4 Informasi dan Tanggapan-tanggapan dalam wawancara konseling


Dengan pilihan itu, iter sebaiknya menerima atau mengklarifikasikan apa yang telah klien katakan tentang dirinya pada tingkat 1) isi, 2) perasaan yang dinyatakan, atau 3) perasaan yang tidak dinyatakan. Iter yang berpusat pada klien seharusnya merespon pada perasaan yang dinyatakan.

Perasaan yang dinyatakan itu menyediakan keputusan iter keempat, apakah untuk menanggapi pada perasaan yaitu 1) positif, 2) perasaan bertentangan atau negatif. Tuerner dan Lombard mengatakan, Iter sebaiknya menanggapi perasaan yang bertentangan dan perasaan negatif, dibanding perasaan positif supaya mendapatkan wawasan masalah klien yang menyebabkan wawancara berlangsung.

Saran-saran dari Turner dan Lombard sebaiknya diintepretasikan sebagai peraturan yang ditetapkan. Wawancara khusus, klien, dan fase dari wawancara akan menentukan apa jenis dari bahan-bahan yang tersedia dan mana yang mempunyai prioritas. Fase 4, misalnya, mungkin membutuhkan nasehat dibanding ka mengklarifikasikan apa yang itee kataka. Menjadi fleksibel, tetapi menggunakan saran Turner dan Lombard sebagai petunjuk.


Tanggapan dan Reaksi Iter

Konselor boleh jadi menanggapi atau bereaksi pada komentar orang yang konseling , relevansi, pertanyaan-pertanyaan, dan jawaban dalam suatu ragam cara yang tanpa batas. Kita mungkin menempatkan tanggapan-tanggapan dan reaksi itu sepanjang suatu rangkaian nondirektif yang tinggi ke nondirektif, direktif, dan direktif yang tinggi.

Reaksi nondirektif yang tinggi mendorong itee melanjutkan berkomitmen, untuk menganalisa gagasan dan solusi, dan untuk menjadi percaya diri. Iter tersebut bukan menawarkan informasi, bantuan, atau evaluasi yang baik pada klien atau gagasan klien atau dari pembelajaran tindakan yang mungkin. Reaksi nondirektif yang tinggi dan tanggapan digunakan dalam fase 1,2,dan 3. Konselor tersebut boleh jadi menyederhanakan, tetap diam, dan bahkan mendorong orang yang konseling untuk melanjutkan atau untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

1. Orang yang konseling : Saya tidak tahu mau berbuat apa

Konselor : (diam)

Orang yang konseling : Saya berpikir, saya akan pulang untuk beberapa minggu hingga saya mendapatkan hal-hal yang disortir.

2. Orang yang konseling : Menurut Anda apa yang seharusnya saya lakukan?

Konselor : (diam)

Orang yang konseling : Ya, saya kira itu keputusan yang saya buat.


Konselor boleh jadi mendorong orang-orang yang konseling melanjutkan pembicaraan dengan memperkerjakan frasa semiverbal, semacam berikut ini:

1. Orang yang konseling : Saya sedang mecoba untuk memutuskanapa saya tinggal di kampus atau pulang untuk beberapa hari.

Konselor : Um-hmmm.

Orang yang konseling : Jika saya tinggal, saya kuatir akan....

2. Orang yang dibimbing : Baiklah, saya pikir saya telah memutuskan bagaimana untuk menangani masalah keuangan saya.

Konselor : Uh, huh?

Oang yang konseling : Pertama, saya akan menjual rumah yang terlalu besar untuk kebutuhan saya. Kemudian.....

Konselor mungkin mendorong orang yang konseling melalui jaminan bahwa perasaan khusus itu normal atau dia akan mampu menangani suatu masalah atau situasi.

1. Orang yang konseling : Saya dengan sederhana tidak dapat menghadapi panitia kedisiplinan.

Konselor

: Saya yakin hal itu nampaknya seperti tidak mungkin sekarang, kebanyakan orang juga berpikir begitu.

2. Orang yang konseling : Saya tidak dapat tidur, saya tidak berselera, dan saya mencucurkan air mata tanpa sebab.

Konselor : Itu adalah reaksi yang normal atas kematian orang tua.


Ketika bereaksi dan menanggapi dalam cara-cara nondirektif yang tinggi, kita harus sadar tentang perilaku nonverbal. Wajah, nada suara, tingkat pembicaraan, dan isyarat harus menyatakan ketertarikan tertentu dan mengungkapkan tingkat empati pada itee. Ungkapan um-hmmm! Boleh jadi tanda reaksi positif atau negatif oleh konselor. Reaksi yang kurang baik dapat mempengaruhi wawancara, membuat klien berhati-hati mengekspresikan perasaan dan keinginan yang benar dengan penerimaan kepada konselor. Jangan mengijinkan sikap diam diperpanjang dan membuat canggung. Jika klien merasa tidak mampu melanjutkan atau “pergi”pada hal penting ini dalam wawancara, buatlah tanggapan yang lebih cocok. Hindari klise, penetraman hati yang kurang berarti, atau khotbah kecil semacam berikut ini.

Setiap awan mempunyai garis silver.

Anda akan tertawa mengenai hal ini suatu hari nanti.

Kita semua harus pergi kadang-kadang.

Suatu hal selalu paling gelap sebelum dini hari.

Anda adalah orang yang beruntung. Mengapa, ketika saya seusiamu....


Ragam dari teknik pertanyaan mungkin melayani sebagai tanggapan nondirektif yang tinggi. Misalnya, konselor mungkin menyatakan kembali atau mengulangi pernyataan atau pertanyaan klien disamping menyediakan jawaban atau informasi sukarela, gagasan, pemecahan, atau evaluasi. Usaha tersebut untuk menghimbau klien merinci atau memunculkan jawaban.

1. Orang yang konseling : Saya tidak tahu apa yang seharusnya saya lakukan

Konselor : Anda tidak tahu pilihan yang tersedia bagi Anda?

2. Orang yang konseling : Itu tidak nampak nyata

Konselor : Kehilangan pekerjaan Anda tidak nampak nyata?


Pernyataan kembali dan pengulangan harus berhati-hati dan penuh maksud.

Konselor boleh kembali pada pertanyaan klien dari pada menjawabnya. Sekali lagi, berusaha mendorong klien untuk menganalisa masalah dan untuk memilih pemecahan masalah yang mungkin.

1. Orang yang konseling : Haruskah saya memiliki usaha sampingan?

Konselor : Bagaimana yang Anda rasakan tentang usaha sampingan?

2. Orang yang dibimbing : Saya tidak tahu usaha sampingan apa yang saya ambil

Konselor : Usaha sampingan apa yang ada di dalam bayangan Anda?


Kita sebaiknya tidak melanjutkan untuk mendesak keputusan kembali pada itee, jika kita mendeteksi bahwa itee bingung, mempunyai sedikit informasi untuk membuat keputusan, salah yang diinfomasikan, tidak diputuskan dengan sebenarnya, atau tidak mampu membuat suatu pilihan. Untuk melanjutkan denagn pendekatan nondirektif yang tinggi akan menjadi nonproduktif dan berbahasa secara potensial untuk membantu proses konseling dan hubungan.

Iter mungkin mengundang itee untuk membahas suatu masalah atau gagasan.

1. Orang yang konseling : Saya dibawah banyak tekanan keluarga Mary.

Konselor : Akankah Anda suka untuk mendiskusikan tekanan itu?

2. Orang yang konseling : Saya mempunyai reservasi serius tentang pelaksanaan ini.

Konselor : Tetaplah mengatakan kepada saya tentang hal itu.


Dalam undangan nondirektif yang tinggi, klien mempertahankan kebebasan untuk menahan diri dari menekuni atau menjaga perasaan yang dirahasiakan jika sungguh-sungguh diinginkan. Konselor tersebut tidak mengatakan “katakan kepada saya tentang itu ” atau “seperti”, tetapi tanyakan jika klien sedang ingin untuk membahasnya, untuk menjelaskan, atau mengungkapkan.

Pertanyaan reflektif adalah hal bernilai dari menemukan, dalam cara nondirektif, jika konselor memahami apa yang klien sekedar katakan. Seperti kita bahas dalam bab 4, pertanyaan reflektif adalah didesain untuk mengklarifikasikan atau untuk memverifikasi pernyataan, bukan untuk memimpin klien terhadap hal penting dari pandangan atau pemecahan terpilih.

Conselee: “Saya tidak merasa saya bisa bekerja pada hari sabtu karena ada masalah

keluarga”

Konselor: “Jika Anda tidak bisa bekerja pada hari sabtu anda akan mengganti untuk

selama-lamanya”

  1. Counselee: “Lalu saran anda apa?”

Konselor: “Ya ini yang harus kamu lakukan. Jumlah penghasilanmu akan meningkat

20 % dan kamu tidak akan kehilangan pekerjaan atau terlambat dengan

alasan apapun”.

Kami harus punya sedikit kesempatan menggunakan aksi-aksi dan tanggapan-tanggapan yang sangat terarah. Pertama, beberapa counselee akan mendorong kita pada titik dimana reaksi-reaksi ekstrim seperti itu perlu. Kedua, couselee biasanya punya sejumlah pilihan dan sejumlah konselor. Dan dari situ mereka memilih dan mungkin menghindari hal-hal yang kelihatannya tidak cukup beralasan dengan keinginan-keinginan mereka. Ketiga, para konselor sering memiliki sedikit wewenang untuk menentukan ide-ide atau solusi-solusi pada klien, bahkan jika mereka bermaksud untuk melakukannya.

Ketika bereaksi pada suatu ucapan itee, kita tidak boleh terkejut dengan apa yang kita dengar atau paling tidak tadak menampakkan keterkejutan kita. Pembacaan secara luas dalam konseling dan persiapan yang matang pada setiap wawancara akan mengurangi jumlah keterkejutan yg kita temui dalam wawancara konseling. Kita tidak harus mencoba mengelak dari fakta-fakta yang tidak menyenangkan. Jujurlah tapi tetaplah berpegang pada fakta jika mungkin. Intonasi nada suara kita, perubahan-perubahan nada suara dan gerak tubuh harus menunjukkan suatu image relaks, tidak tergesa-gesa dan percaya diri pada klien. Jika kita gugup dan menampakkannya kita tidak bisa berharap klien bisa relaks. Menghindari munculnya tingkah laku kasar atau memaksa, terlalu dingin, sopan atau formal. Klien tersebut mungkin kehilangan kepercayaan pada kita sebagai konselor, mengakhiri wawancara tidak melanjutkan konseling pada konselor-konselor lain. Sejumlah studi telah menemukan pengungkapan itee selama wawancara konseling seperti dibawah ini

  1. Data lebih luas dan otentik ketika iter sangat terbuka, menunjukkan minat penerimaan dan pengertian

  2. Resiko persepsi itee dan keperluan menyediakan informasi, mempengaruhi pengungkapan

  3. Sejarah pengungkapan itee mempengaruhi pengungkapan dalam wawancara konseling

  4. Itee wanita merespon lebih lama terhadap iter wanita tetapi tidak menunjukkan informasi lebih pada wanita daripada laki-laki.

  5. Suatu pemikiran atau uraian baru dari pernyataan itee mengesankan hal negatif tapi bukan positif itu sndiri

  6. Tanggapan-tanggapan itee lebih nampak ketika mereka menerima hubungan personal yang lebih besar.

Masing2 penemuan ini menunjukkan pada kita hal penting yang harus kita lakukan atau kita hindari dalam wawancara, atau menceritakan pada kita apa yang diharapkan dalam wawancara.

Pertanyaan-pertanyaan

Hindarilah terlalu banyak bertanya agar itee lebih terfokus untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Hindarilah pertanyaan tertutup yang menbutuhkan jawaban iya atau tidak. Berilah pertanyaan yang dapat mengajak klien untuk memverbalkan emosinya, untuk melihat lebih dalam masalah dan menawarkan kemungkinan solusi seperti :

  • Solusi apa yang sudah anda coba?

  • Apakah ide yang ada dalam pikiran anda?

  • Menurut anda, mengapa pimpinan anda melakukannya?

  • Apa yang terjadi berikutnya?

  • Apa ada hal lain yang ingin anda lakukan?

Hindarilah pertanyaan yang tidak berkenan, tidak menyenangkan/terkesan tidak mempercayai. Biasanya pertanyaan ”mengapa” dapat menimbulkan reaksi defensif dari itee, seperti pertanyaan berikut :

  • Mengapa anda tidak membuat laporan secepatnya?

  • Mengapa anda tidak memberikannya pada bagian keuangan?

  • Mengapa anda tidak lakukan apa yang pimpinan anda katakan?

Membantu dan Memberi Informasi

Iter mengkondisikan bahwa wawancara berpusat pada klien, dengan cara :

  1. Menghindari memberi nasehat pada itee

  2. Menjadi seseorang yang menolong bukan meramal

  3. Menghindari komentar yang dapat menimbulkan dampak negatif pada itee

  4. Klien boleh menolak solusi yang kita tawarkan

Memberikan informasi lebih tepat daripada memberi nasehat, diwujudkan dengan cara:

  1. Melayani sebagai pendorong, pemberi petunjuk, motivator, cermin yang dapat merefleksikan ide-ide dan perasaan itee.

  2. Jujur, memberi pengertian bahwa kita tidak selalu dapat memberikan solusi.

Pentingnya keahlian dalam wawancara konseling

  1. Klien mampu merasakan dengan seksama keahlian atau kekurangan konselor.

  2. Iter yang ahli akan melayani dengan lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan klien.

  3. Pelayanan seorang iter yang ahli lebih bersifat tidak langsung daripada iter yang tidak ahli.

  4. Iter yang ahli membatasi respon mereka untuk beberapa poin penting dalam interview.

  5. Iter yang ahli melayani klien dengan sikap yang baik dan menyenangkan.

Dalam menjelaskan proses konseling dalam sebuah agensi atau departemen, hendaknya bersifat jelas dan tepat sasaran. Proses konseling dapat menggunakan tes dan perkenalan untuk mendapatkan informasi. Dalam menyampaikan hasil tes, hindari komentar yang dapat memadamkan harapan klien serta pernyataan yang dapat mempengaruhi hasil/informasi yang diperoleh selama sesi wawancara. Seperti pernyataan : ”saya khawatir, anda berada di tempat yang salah” atau ”anda harus berhenti mengajar”

Beberapa faktor yang dapat meghambat itee dalam mengingat dan memberi informasi secara aktual dan lengkap adalah :

  1. Keadaan fisik

  2. Keterbatasan personal

  3. Hubungan iter dan itee

  4. Cara penyampaian informasi

  5. Munculnya rasa menyesal atau bersalah atas informasi yang overload


Teknik komunikasi yang dapat dilakukan konselor untuk meningkatkan kemampuan itee dalam menerima, memahami, mengingat dan menyampaikan informasi diantaranya adalah :

  1. Penggunaan media visual

  2. Vocal punctuation

  3. Memberi pertanyaan

  4. Strategi repetisi

  5. Sistem presentasi atau penyampaian informasi

  6. Penyampaian pengertian dan penjelasan

  7. Mengurangi informasi dari semua rincian informasi

  8. Mengurangi jumlah waktu itee dalam menyampaikan informasinya kembali

Kecurigaan sering timbul saat iter membuat tulisan selama sesi wawancara berlangsung. Kecurigaan tersebut dapat dikurangi dengan menjelaskan apa yang sedang kita lakukan, bagaimana bentuknya dan bagaimana kita akan menggunakan informasi yang kita tulis tersebut. Kemukakan secara terbuka.

Alfred Benyamin dalam bukunya The Helping Interview memperingatkan agar :

  • Tidak mencatat hal yang akan kita rahasiakan pada klien

  • Tidak mencatat saat dibutuhkan pemeliharaan komunikasi yang efektif (mendengarkan, kontak mata, umpan balik) dengan itee

Penutupan

Penutupan wawancara konseling sama pentingnya untuk mencapai keberhasilan wawancara. Beberapa petunjuk memilih cara penutupan yang baik :

  • Baik iter maupun itee hendaknya mampu mengatakan kapan saatnya menutup wawancara secara langsung.

  • Tidak membuka topik baru saat wawancara dirasa cukup.

  • Jangan mengharapkan dapat menyelesaikan masalah dengan rapi dalam satu paket.

  • Berpikir bahwa itee mampu dan suka rela mau berdiskusi dengan kita.

  • Jangan memberikan perhatian berlebih.

  • Bukalah pintu untuk percakapan berikutnya.

Cara kita menutup wawancara dapat meningkatkan atau meruntuhkan kepercayaan klien terhadap kita selama wawancara.


Evaluasi Setelah Wawancara

Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat menjadi petunjuk dalam melakukan evaluasi setelah wawancara baik saat menjadi konselor/konselee.

Persiapan Pra-wawancara

    1. Apakah kita sudah meninjau bahan yang tersedia berkaitan dengan orang yang diwawancarai atau pewawancara sebelum wawancara tersebut?

    2. Apakah kita sudah membuat suatu usaha untuk mengetahui diri kita dan tingkat keahlian konseling kita atau kemampuan untuk memecahkan masalah saya?

    3. Apakah kita sudah menilai kebutuhan bagaimana saya berkomunikasi dan ”melintasi” dengan orang lain secara khusus dengan golongan ini?

    4. Sudahkah saya mengevaluasi bagaimana orang lain, golongan ini dalam hal tertentu, memandang saya atau kelompok untuk mana saya pilih?

    5. Sudahkah saya meninjau pertanyaan yang saya mungkin tanyakan untuk mendapatkan dan berpikir untuk bagaimana saya mungkin menanggapi pertolongan dan tidak secara defensif?

    6. Sudahkah saya menyiapkan suatu iklim dan menyelesaikan dimana keterbukaan dan keinginan untuk mengkomunikasikan yang akan dibantu perkembangannya?

Keterampilan mewawancarai

  1. Seberapa efektif dan lengkap pembukaan?

  2. Seberapa terampil teknis wawancara saya?

  3. Apakah saya sudah menggunakan suatu campuran pendekatan direktif dan non-direktif yang sesuai?

  4. Sudahkah saya meletakkan catatan yang cukup tanpa mengganggu proses wawancara?

  5. Sudahkah saya menyusun langkah yang bagus untuk wawancara tersebut, bukan terlalu cepat atau terlalu lambat?

  6. Sudahkah saya mempekerjakan bantuan visual untuk membantu bagian lain untuk mengingat dan untuk memahami pembahasan, penjelasan dan pilihan?

  7. Sudahkah bagian terdiri dari dua atau lebih orang, yang telah saya mampu untuk melibatkan semua anggota dari sebagian dalam wawancara?

  8. Seberapa efektifnya saya dalam memotivasi orang yang dibimbing atau konselor untuk mengkomunikasikan pada tingkat 2 dan 3?

  9. Seberapa toleransinya saya untuk dari kejadian diam selama wawancara?

  10. Bagaimana persiapan saya bersepakat dengan pertanyaan dan komentar, khususnya pertanyaan dan komentar negatif?

  11. Seberapa efektif dan lengkapnya saya menutupnya?

Keterampilan konseling

  1. Seberapa baiknya saya menyesuaikan pada bagian ini dan pada situasi ini?

  2. Sudahkah saya menjelaskan semua pilihan dengan jelas, secara menyeluruh, dan secara objektif?

  3. Sudahkah saya ”membantu” bagian lain untuk mendapatkan wawasan dan untuk membuat keputusan tanpa mendominasi wawancara atau melaksanakan tekanan nyata dan yang sulit dipisahkan?

  4. Di dalam usaha saya untuk tetap netral, apakah saya sudah gagal untuk menjadi konselor yang efektif, untuk menjadi seorang yang peduli pada manusia?






Persepsi Masyarakat Tentang Kegilaan dan Dampaknya Bagi ‘Orang Gila’

  1. Definisi Gila

Gila adalah sebuah kata yang di gunakan oleh masyarakat awam untuk mengungkapkan sebuah kondisi tidak berfungsi dengan baiknya cara interaksi seseorang terhadap yang lain. Dengan bahasa psikologis, seorang yang dinyatakan “gila” oleh masyarakat awam, adalah seorang yang tidak sama secara tingkah laku dengan masyarakat secara mayoritas (secara statistik, signifikan tidak berada dalam distribusi normal). Gila secara ilmiah dikatakan sebagai penyakit mental yang disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan keluarganya).Penyakit mental dapat me-ngenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial-ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi.


  1. Persepsi Masyarakat Tentang Kegilaan

Masyarakat seringkali memiliki persepsi negatif terhadap kegilaan. Orang gila dianggap sebagai orang yang tidak waras, sinting dan ungkapan kasar lainnya. Menurut Irwanto, Phd, peneliti di Universitas Atma Jaya, Jakarta, "Berbagai bentuk kesalahan sikap masyarakat dalam merespon kehadiran penderita gangguan jiwa terjadi akibat konstruksi pola berpikir yang salah akibat ketidak tahuan publik. Terdapat logika yang salah di masyarakat. Mispersepsi tersebut selanjutnya berujung pada tindakan yang tidak membantu percepatan kesembuhan si penderita. Masyarakat cenderung menganggap orang dengan kelainan mental sebagai sampah sosial. Pola pikir demikian harus didekonstruksi" (Kompas, 27/09/04). Salah kaprah pengertian dan pemahaman penyakit jiwa ini mungkin karena ketidak tahuan masyarakat pada masalah-masalah kejiwaan dan kesehatan mental. Ketidak tahuan ini mengakibatkan persepsi yang keliru, bahwa penyakit mental merupakan aib bagi si penderita maupun bagi keluarganya. Sehingga si penderita harus disembunyikan atau dikucilkan, bahkan lebih parah lagi ditelantarkan oleh keluarganya.

Selain itu ada anggapan keliru di masyarakat bahwa penderita gangguan jiwa hanya mereka yang menghuni rumah sakit jiwa atau orang sakit jiwa yang berkeliaran di jalanan. Padahal gangguan jiwa bisa dialami oleh siapa saja, disadari atau tidak. Orang yang tampaknya sehat secara fisik, bukan tidak mungkin sebenarnya menderita gangguan jiwa, dalam kadar yang paling ringan seperti depresi misalnyaPersepsi masyarakat tersebut antara lain:

    1. Penyakit mental disebabkan oleh roh jahat

Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental, ada yang percaya bahwa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena si sakit tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat

    1. Penyakit mental itu memalukan

Adanya persepsi masyarakat bahwa orang gila ataupun keluarganya akan menerima aib. Orang gila dan keluarganya sering dicemooh bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Adanya persepsi bahwa kegilaan adalah aib menyebabkan orang gila yang dianggap sembuh oleh doter di rumah sakit jiwa tetap tidak dapat dipulangkan karena keluarga dan masyarakat tidak menginginkannya kembali.

    1. Orang Gila adalah sampah masyarakat yang mengganggu keindahan dan kenyamanan kota


  1. Perlakuan-Perlakuan Masyarakat Terhadap Orang Gila

    1. Memasung

    2. Memperlakukan dengan kasar, perlakuan kasar seringkali dilakukan oleh anak-anak dengan melempari batu dan mengejek.

    3. Membuang orang gila tersebut ke daerah lainnya karena orang gila tersebut adalah sampah masyarakat

    4. Masyarakat menghardik orang gila tersebut dan pemerintah menyingkirkannya secara tidak manusiawi


  1. Dampak Persepsi yang salah tentang orang gila

    1. Pada keluarga orang gila tersebut

Keluarga merasa malu atas anggota keluarganya yang gila bahkan adanya tekanan batin yang dialami keluarga karena cemoohan dan pengucilan yang dilakukan oleh masyarakat.

    1. Pada orang gila itu sendiri

Persepsi masyarakat yang salah dapat menyebabkan orang gila tersebut akan menerima siksaan dengan pemasungan yang dilakukan oleh keluarga dan masyarakat. Kesembuhan pada orang gila tersebut pun sangat kecil harapannya karena masyarakat malah menghina mereka alih-alih memberi perhatian dan kasih sayang untuk kesembuhan gangguan mental mereka. Setelah sembuhpun ada kemungkian orang gila tersebut akan kembali menjadi gila, hal ini dikarenakan masyarakat tetap tidak menerima mantan orang gila. Mereka tetap mempersepsi negative terhadap orang gila sehingga orang gila tersebut tetap menjadi beban keluarganya ataupun masyarakat karena ketiadaan lapangan kerja yang mau menerima orang gila untuk bekerja.

    1. Pada masyarakat

Masyarakat mungkin saja akan mengalami kekerasan yang dilakukan orang gila atas perlakuan kasar yang mereka lakukan kepada orang gila tersebut. Persepsi masyarakat tersebut dapat pula menyebabkan perilaku imitasi yang akan dilakukan oleh anak-anak untuk menyakiti orang lain terutama orang gila dengan melakukan kekerasan secara fisik dan secara verbal.


  1. Jenis-Jenis Orang Gila di Masyarakat

    1. Orang gila yang tidak memakai baju sesentipun, orang gila tersebut tidak memakai baju dan berkeliaran di jalan raya

    2. Orang gila yang selalu berkata buruk, orang gila tersebut mencaci maki orang-orang yang lewat didepannya dan sering kali meludahi orang didepannya.

    3. Orang gila yang memakai kekerasan, orang gila tersebut sering kali menyakiti orang lain saat dalam keadaan marah.


  1. Perlakuan Pada Orang Gila

  1. Isolasi, perlakuan terhadap orang gila dengan cara dipasung

  2. Deinstitutionalization, perlakuan terhadap orang dengan cara mengobati orang tersebut dirawat di rumah sakit.

  3. Homelessness, perlakuan terhadap orang gila dengan cara obat jalan yaitu dirawat oleh keluarganya sendiri di rumah.

  4. Transinstitutionalization, perlakuan terhadap orang gila dengan jalan dibiarkan saja yaitu ditempatkan pada suatu tempat dimana dia bebas menjadi dirinya sendiri (dimana dia tidak akan menyakiti dirinya sendiri dan orang lain serta tidak mengganggu orang lain). Cara ini berangkat dari paham eksistensialisme yaitu setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri.


Daftar Pustaka

http://www.wikimu.com/News/Printaspx?id=1045http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakitmental

http://www.sivalintar.com/artikel.html

http://desantara.org/v3/index.php?option=com_content&task=view&id=385&Itemid=53

http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/10/opi04.htm

http://curhatkita.blogspot.com/2008/12/sakit-jiwa-aib.html

Senin, 08 Desember 2008

empati dalam kehidupan manusia

  1. Latar Belakang Masalah

Empati adalah kemampuan untuk mengalami dan merespon perasaan orang lain. Empati lebih daripada menerima emosi orang lain tetapi pada merasakan emosi didalamnya dan mengekspresikannya sepenuh hati. Oleh karena itu empati sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.

Untuk dapat berempati, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan berempati pada diri sendiri (self-smpathy). Self-empathy adalah dengan penerimaan diri, mengkoneksikan diri pada perasaan dan kebutuhan kebutuhan dirinya serta mengasihani diri sendiri.

Zaman globalisasi yang biasa disebut jaman modern menyebabkan semakin menipisnya empati pada diri setiap individu. Semakin modern dunia, paham kapitalis semakin menguat, egoisme semakin tinggi pada diri individu sehingga tidak adanya cinta tehadap sesama. Menurut Erick Fromm (Fromm,2004) cinta merupaka suatu kegiatan (activity) yang cirinya adalah dengan memberi, sehingga dalam hal ini memberi berarti memberikan kesediaan kita untuk bisa peduli terhadap orang lain. Cinta terhadap sesama manusia semakin menipis sehingga tidak adanya kepedulian terhadap sesame. Individu disibukkan dengan cintanya terhadap diri sendiri dan kehidupannya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya masalah sosial yang sering kita jumpai saat ini.

Masalah-masalah dalam segala aspek kehidupan yang timbul dan sering kita lihat sehari-hari merupakan dampak dari miskinnya empati baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan keluarga, dan soaial serta dalam dunia pendidikan. Padahal empati sendiri dalam kehidupan manusia merupakan nilai-nilai peninggalan dari nenek moyang kita. Empati digunakan oleh spesies manusia untuk membuat manusia tersebut tahu apa yang manusia lain alami.

Beberapa ilmuwan yang menyatakan bahwa kemampuan untuk berempati adalah faktor genetic, jadi kemampuan empati diwarisi disetiap generasi. Akan tetapi empati dapat dipelajari, misalnya melalui keluarga, dalam hubungannya dengan masyarakat, pendidikan di sekolah serta pengalaman-pengalaman terapis dalam psikoterapi.

Penulis membatasi empati dalam kehidupan manusia dalam 4 aspek yaitu dalam psikoterapi, pendidikan, keluarga dan dalam kehidupan sosial serta masalah apa yang terjadi apabila tidak terealisasniya empati dalam kehidupan manusia tersebut. Penulis juga memberikan bagaimana cara membentuk empati

PEMBAHASAN

  1. Empati

Carl Rogers (1975, dalam Cotton, 2001), berempati berarti mempersepsi kerangka pikir internal orang lain secara tepat mencakup unsur-unsur emosional dan cara-cara bertingkahlaku, disertai dengan kepedulian seolah-olah diri sendiri adalah orang lain yang sedang dipersepsi tetapi tanpa kehilangan kesadaran sedang mengandaikan sebagai orang lain. Gallo (1989) menyatakan bahwa sebuah respons empatik mengandung baik dimensi kognitif maupun afektif. Istilah empati digunakan paling tidak dalam dua pengertian: (1) sebuah respons kognitif utama untuk memahami bagaimana orang lain merasa; (2) kebersamaan afektif yang setara dengan orang lain. Dengan demikian, empati juga dapat dipahami sebagai pemahaman yang intim bahwa perasaan-perasaan, pikiran-pikiran dan motif-motif seseorang dimengerti secara menyeluruh oleh orang lain, disertai ungkapan penerimaan terhadap keadaan orang lain.

Secara umum, unsur-unsur empati adalah sebagai berikut:

  1. Imajinasi yang tergantung kepada kemampuan membayangkan; di sini imajinasi berfungsi untuk memungkinkan pengandaian diri seseorang sebagai orang lain.

  2. Adanya kesadaran terhadap diri sendiri (self-awareness atau self-consciousness); secara khusus pandangan positif terhadap diri sendiri, secara umum penerimaan (dalam arti pengenalan) apa adanya terhadap kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

  3. Adanya kesadaran terhadap orang lain; pengenalan dan perhatian terhadap orang lain; secara khusus pandangan positif terhadap orang lain, secara umum penerimaan apa adanya terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain.

  4. Adanya perasaan, hasrat, ide-ide dan representasi atau hasil tindakan baik pada orang yang berempati maupun pada orang lain sebagai pihak yang diberi empati disertai keterbukaan untuk saling memahami satu sama lain.

  5. Ketersediaan sebuah kerangka pikir estetis; ini merupakan dasar untuk menampilkan respons yang dianggap pantas dan memadai agar kesesuaian antara orang yang berempati orang yang menjadi sasaran empati dapat tercapai (agar tidak menjadi pelanggaran privasi atau perilaku ‘sok tahu); kerangka pikir estetis selalu tergantung pada budaya, masyarakat dan konteks jaman.

  6. Ketersediaan sebuah kerangka berpikir moral

Dalam jurnalnya, Jean Dacety dan Philip L Jackson menyebutkan tiga komponen utama dari empati yaitu: (1) respon afektif untuk orang lain, (2) kapasitas kognitif untuk memahami perspektif orang lain dan (3) regulasi emosi. Adapun fungsi empati adalah:

  1. Kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda akan mendorong seseorang mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, dapat menempatkan diri pada posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.

  2. Mampu berempati mendorong seseorang untuk melakukan tindak altruistis, yang tidak hanya mengurangi atau menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi juga ketidaknyamanan perasaan individu melihat penderitaan orang lain. Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.

  3. Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat anak menyadari bahwa orang lain dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari serta memerhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik, dimanifestasikan dalam sifat optimistis, fleksibel, dan emosi yang matang. Jadi, konsep diri yang kuat, melalui proses perbandingan sosial yang terjadi dari pengamatan dan pembandingan diri dengan orang lain, akan berkembang dengan baik.

  1. Self-emphaty

Self-emphaty adalah langkah awal yang dilakukan untuk dapat berempati dengan orang lain, karena sebelum kita benar-benar bisa memamahami orang lain, kita juga seharusnya dapat memahami diri sendiri terlebih dahulu dengan menjadi manusia yang lepas bebas. Self-empathy merupakan proses yang terjadi dalam diri individu itu sendiri. Self-empathy merupakan proses yang mana kita mentransform jackal thinking (judgement, blame) kedalam connecting energi dalam perasaan-perasaan dan kebutuhan. Self empathy dimulai dari penerimaan akan disconnection dari kebutuhan-kebutuhannya dan berpindah untuk menjadi connect pada energi hidup akan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Langkah-langkah untuk dapat menjadi self-empathy adalah sebagai berikut:

    1. Langkah 1: Kesadaran akan disconnection

Perasaan marah, bersalah, malu dan depresi semuanya merupakan tanda dari disconnection dan merupakan sumber dari pikiran dan persepsi kita. Hubungan lain dari tanda tersebut adalah ‘jackal show’ (apa yang kita ceritakan pada diri sendiri) bahwa mungkin berjalan pada kepala kita.

    1. Langkah 2: Connecting pada kebutuhan

Kita sadar akan disconnected dari kebutuhan-kebutuhan kita, step selanjutnya adalah mengerti apa yang akan dilakukan oleh diri jita sendiri untuk membayar perhatian ‘jackal show’. Petunjuk apa yang diberikan jackal show tentang kebutuhan kita?. Setiap judgement adalah ungkapan tragis akan unmet need.

    1. Langkah 3: Berkabung pada unmet need

    2. Langkah 4: Mengalami indahnya kebutuhan-kebutuhan tersebut

Setelah berkabung pada unmet need, sekarang waktunya untuk berimajinasi apabila kebutuhannya terpenuhi.


  1. Empati dalam kehidupan manusia

Empati dalam keidupan manusia sangat dibutuhkan untuk membangun hubungan yang baik antara indidu dengan individu yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan Empati digunakan oleh spesies manusia untuk membuat manusia tersebut tahu apa yang manusia lain alami dan kemampuan untuk berempati adalah faktor genetic, jadi kemampuan empati diwarisi disetiap generasi dan juga empati dapat terus-menerus dipelajari.

      1. Dalam Psikoterapi

Empati dari seorang terapis sangat dibutuhkan dalam suksesnya hubungan teraputik dan keberhasilan proses terapi, terapis memerlukan empati untuk memahami kondisi psikis klien yang sedang dibantunya.. Truax dan Carkhuff menyatakan bahwa “ bahan-bahan utama seperti empati, kehangatan dan kesejatian tidak semata-mata merepresentasikan ‘teknik-teknik’ psikoterapi atau konseling, tetapi kecakapan-kecakapan antar pribadilah yang digunakan oleh konselor atau terapis dalam menerapkan teknik-teknik atau pengetahuan keahliannya. Empati oleh terapis dilakukan dengan cara: (1) memahami perasaan pasien lalu merasakannya, (2) memahami realitas pasien dengan tepat (accuracy empathic understanding).

Menurut Kohut, empati dilihat sebagai ‘memberikan kepedulian’ pada pasien, memanjakan pasien, bertemu atas permintaan pasien, dan lembut terhadap pasien. Menjadi empati sebagai terapis membutuhkan kemurnian, batas-batas, kematangan, kepercayaan, keterjaminan, dan keharuan.

      1. Dalam Keluarga

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pembentukan empati terutama pembentukan empati anak, karena proses belajar anak dimulai dari keluarga. Empati oleh orang tua diwujudkan dengan kasih sayang dan empati terhadap sesama saudara dalam diri anak.

Di zaman modern saat ini, orang tua sering kali tidak mempunyai banyak waktu untuk bersama-sama anak-anaknya, sehingga kepuedulian terhadap mereka sangat tipis sekali, empati terhadap mereka seringkali hampir tidak ada karena orang tua sibuk dengan urusan diri sendiri. Egoisme dan narsistik sangat besar dalam diri orang tua misalnya untuk terus mengejar karir dan meraup kekayaan secara terus menerus sehingga mengorbankan cintanya pada anak-anak. Anak-anakpun akan me-imitasi perilaku orang tua mereka dalam kehidupan sosial mereka dan anak-anak sering kali menghabiskan waktu sendirian misalnya dengan menonton TV sehingga empati di dunia ini semakin lama semakin menipis karena egoistic dan narsistik terus-menerus berkembang baik disadari maupun tidak. Orangtua seringkali menganggap empati diberikan jika kebutuhan material anak terpenuhi padahal yang diperlukan anak adalah perhatian, dipahami, dicintai dan diberi kasih sayang.

      1. Dalam Pendidikan

Empati terbukti juga penting dalam proses belajar mengajar. Untuk menjadi pengajar yang efektif, orang perlu memiliki kemampuan ini. Seorang pengajar memerlukan empati untuk memahami kondisi muridnya untuk dapat membantunya belajar dan memperoleh pengetahuan. Pengajar yang tidak memahami perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, motif-motif dan orientasi tindakan muridnya akan sulit untuk membantu dan memfasilitasi kegiatan belajar murid-muridnya.

Empati, baik untuk pengajar maupun pelajar, semakin diperlukan dalam pendidikan dalam upaya mencapai keberhasilan proses pembelajaran. Jika kita bertanya apa karakteristik dari pelajar yang sukses maka banyak ahli psikologi pendidikan menjawab: berpengetahuan, mampu menentukan diri sendiri, strategis dan empatik (Jones, 1990).

Empati, merujuk Jones (1990), penting karena para profesional yang sukses dalam bidang apapun (termasuk dosen sebagai peneliti dan akademisi) menunjuk kemampuan komunikasi agar sukses dalam pekerjaannya. Mereka juga mampu memandang diri sendiri dan dunia dari sudut pandang orang lain. Artinya mereka mampu mencermati dan menilai keyakinan-keyakinan dan keadaan-keadaan orang lain dengan tetap berpegang kepada tujuan mengembangkan pemahaman dan penghargaan. Murid-murid yang sukses pun menunjukkan kemampuan ini. Mereka menilai positif kegiatan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang berbeda latar belakang untuk memperkaya diri mereka.

Dari segi sosial, empati menjadi lebih penting lagi bagi seorang pengajar. Hilangnya empati dapat melahirkan kecenderungan pengajar melakukan abuse dan eksploitasi terhadap murid-muridnya. Tingkah laku agresif guru terhadap murid banyak terjadi karena terhambatnya empati guru. Tugas yang berat dan menyiksa murid, hukuman yang berlebihan, serta ketakpedulian pengajar terhadap apa yang dialami muridnya merupakan tanda-tanda rendahnya empati yang pengajar.

Kuatnya empati pada seorang pengajar merupakan indikasi dari kesadaran diri, identitas diri yang sehat, penghargaan diri yang terkelola dengan baik, dan kecintaan terhadap diri sendiri dalam arti positif. Di sisi lain, empati menunjukkan juga adanya kematangan kognitif dan afektif dalam memahami orang lain, kemampuan mencintai dan menghargai orang lain, serta kesiapan untuk hidup bersama dan saling mengembangkan dengan orang lain. Empati merupakan ‘tembok karang’ moralitas seorang pengajar, bahwa ia mengajar, mengabdikan dirinya untuk mengembangkan murid-muridnya, bukan untuk memanfaatkan dan mengambil untung dari mereka.

      1. Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Empati didefinisikan sebagai kemampuan untuk membayangkan diri sendiri berada pada tempat dan pemahaman yang dimiliki orang lain, mencakup perasaan, hasrat, ide-ide, dan tindakan-tindakannya. Istilah ini awalnya biasa digunakan dengan rujukan khusus pengalaman estetis. Namun belakangan, istilah ini diterapkan lebih luas dalam hubungan interpersonal. Empati dinilai penting peranannya dalam meningkatkan kualitas positif hubungan interpersonal.

Tuntutan hidup yang tinggi dan sifat materialistis manusia berdampak pada berkembangnya individualisme yang tinggi dalam diri masyarakat. Individu-individu disibukkan oleh urusannya sendiri sehingga tidak ada lagi ‘cinta persaudaraan’ (cinta terhadap sesama manusia) yang berakibat pada miskinnya empati pada diri masyarakat terhadap sesama manusia. Banyak masalah sosial yang timbul dari miskinnya empati ini, misalnya perampokan, pencurian, dll. Hal ini disebakan karena miskinnya empati adalah karena kurangnya sifat berbagi dlam diri individu pada masyarakatnya. Empati dengan mencintai sesame berarti melakukan tindakan “memberi”, memberi dalam hal ini tidak hanya dilihat dalam segi material, tetapi juga dilihat dalam segi tindakan memahami dengan tindakan memberikan lapangan pekerjaan, keterampilan-keterampilan bekerja.

Dr Limas Sutanto menuliskan bahwa kini telah merebak di tengah masyarakat kita adalah lawan dari pengertian antar-insan, berupa kecenderungan untuk makin sedikit mendengarkan orang-orang lain, yang disertai ingar-bingar kesukaan berlebih untuk memamerkan diri sendiri, bahkan menyombongkan diri sendiri. Yang kini merebak juga di tengah masyarakat kita adalah lawan dari penerimaan antar-insan, berupa kecenderungan saling menolak, bahkan kecenderungan saling meniadakan, di tengah perspektif realistik masyarakat yang mau tak mau selalu ditandai keberbedaan dan keanekaragaman. Miskinnya penerimaan antarinsan mencuatkan gejala penegasan keberbedaan yang mengarah ke pemisahan (polarisasi, fragmentasi, bahkan disintegrasi) "Diri" dengan "Pihak Lain".

Padahal, empati adalah kekuatan yang luar biasa dan niscaya untuk mengatasi masalah-masalah di tengah masyarakat dan bangsa. Sayang sekali, ia sangat sering diremehkan dan diabaikan. Orang-orang lebih percaya kepada kekuatan kepintaran, ilmu pengetahuan, dan teknologi semata-mata. Ketiga hal terakhir itu memang penting, tetapi acap kali kepintaran, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak mampu mengejawantahkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kedamaian bagi masyarakat karena mereka tidak digunakan oleh insan-insan yang mempersenjatai diri dengan empati.


  1. Masalah-masalah yang timbul terkait empati

Ketiadaan empati dapat menyebabkan gangguan neroligical dan psikiatri termasuk didalamnya autisme, kepribadian anti sosial dan narsistik. Beberapa dibawah ini contoh kasus ketiadaan empati:

      1. Penggunaan obat-obatan terlarang oleh remaja

Penggunaan obat-obatan terlarang yang dilaukan remaja, tidak lain adalah adanya rasa ketidak pedulian anggota keluarga pada diri anak. Orang tua yang sibuk serta saudara-saudaranya yang individualis tidak menunjukkan empati padanya sehingga remaja mencari perhatian pada yang lainnya yang dapat memuaskan rasa kebutuhan untuk dipedulikan dengan menggunkan obat-obatan terlarang. Hal yang lebih parah lagi adalah, orang tua cenderung memarahi anaknya yang terlibat dalam narkoba bukannya malah berempati.

      1. Bunuh diri yang dilakukan ibu dengan terlebih dahulu membunuh anaknya.

Dengan empati, kita bisa menghayati betapa ibu yang bunuh diri setelah membunuh anak-anaknya, seperti yang terjadi di Malang beberapa hari lalu (Kompas, 12 Maret 2007), adalah insan yang tidak lagi melihat harapan baik apa pun bagi dirinya dan anak-anaknya di tengah kehidupan. Mungkin pada mulanya sang ibu akan mengakhiri hidupnya sendirian, tetapi dia membayangkan betapa sepeninggal dirinya, anak-anak akan telantar karena tidak akan ada orang yang peduli kepada anak-anak itu. Sang ibu tidak mau membiarkan anak-anaknya menderita di tengah kehidupan yang miskin empati itu, maka dia memutuskan untuk lebih dulu mengakhiri hidup anak-anaknya, sebelum dia sendiri mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Ketika di sana-sini terbetik kabar ada ibu-ibu yang membunuh anak-anak mereka lalu bunuh diri karena kemiskinan, dengan gampang tokoh-tokoh berteriak lantang agar bangsa ini membantu rakyat miskin dan mengatasi kemiskinan. Mereka semua tahu bahwa kemiskinan niscaya diatasi. Namun, dalam kenyataan, tindakan yang diwujudkan untuk mengatasi kemiskinan tidak efektif. Ketidakefektifan ini terjadi bukan karena mereka tidak tahu apa yang niscaya mereka lakukan, melainkan karena mereka tidak kunjung mengejawantahkan tindakan-tindakan yang sungguh memadai untuk mengatasi kemiskinan. Mengapa demikian? Karena, kendati mereka tahu dan bisa, mereka miskin empati, dan dengan demikian mereka sungguh tidak memiliki daya untuk mengejawantahkan kebaikan dan kebenaran


  1. Cara berempati

  • Menurut nasehat Daniel Goleman, kemampuan berempati bisa kita naikkan melalui praktek berikut:

      1. Cepat menangkap isi perasaan dan pikiran orang lain (understanding others).

      2. Memberikan pelayanan yang dibutuhkan orang lain. Member, bukan mengambil (Service Orientation), apalagi memanipulasi.

      3. Memberikan masukan-masukan positif atau membangun orang lain (developing others)

      4. Mengambil manfaat dari perbedaan, bukan menciptakan konflik dari perbedaan (leveraging diversity)

      5. Memahami aturan main yang tertulis atau yang tidak tertulis dalam hubungan kita dengan orang lain (Political awareness).



        • Orang tua dapat membantu anaknya untuk menjadi empati dengan cara:

          1. Menjadi responsive akan perasaan dan kebutuhan anak

          2. Bertindak positif kearah tingkah laku positif

          3. Menjadi model perilaku empatik

          4. Memberikan pengaruh pada anak tentang efek perilakunya terhadap orang lain

          5. Membantu anak mengerti bagaimana bila mereka menyakiti orang lain

          6. Memberikan kepedulian yang konsisten

          7. Menghindari menggunakan ancaman dan hukuman fisik

          8. Jangan menolak atau menghindari dari anak ketika mereka membutuhkan bntuan emosional

          9. Memberikan rumah tanpa kekerasan rumah tangga

        • Orang dewasa dapat menjadi empati dengan cara:

  1. Menambah kesadaran emosional dalam diri sendiri

  2. Mengajarkan pada diri sendiri untuk memperhatikan kondisi emosional orang lain

  3. Memperbaiki penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain

Daftar Pustaka

Artikel. Somatic Resonance And Empathy. (online) (http://www.gogle.com)

Bayer, Rich. Empathy. (online) (http://www.gogle.com)

Corey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama

Decety, Jean dan Jacson, Philip. L. A Social-Neuroscience Perspective on Emphaty. (online) (http://www.gogle.com)

Fromm, Erick. 2004. The Art Of Love. Yokyakarta: Pradipta Publishing

Kendrick, Gregg. Self-Empathy. (online) (http://www.gogle.com)

Setiawan, Imam. Melihat Kisah Bunuh Diri Dengan Empati. (online) (http://www.duniaesai.com)

Sutanto, Limas. Masyarakat Miskin Empati. (online) (http://www.kompas.com)

Takwin, Bagus. Pentingnya Empati Dalam Pendidikan. (online) (http://www.bagustakwin.multiply.com)